Langsung ke konten utama

Tour Seminar

Dalam satu kesempatan ditugasi kantor untuk seminar…waktu luang sangat berharga (kayaknya lebih berharga dari pada seminarnya sendiri he he). Di waktu luang dipake buat jalan-jalan menyusuri tempat-tempat yang bisa memberi nuansa dan kenangan. Disini saya share jalan-jalanku pada kunjungan ke-2 ke Jepun bulan September 2007. Ternyata dari 2001 ke 2007 Jepang tidak banyak berubah. Perubahan di Jepang terjadi di era tahun 70-an, saat ini mereka mengalami stagnasi.

HAKONE
Hakone sebuah kota kecil di lereng Gunung Fuji yang terkenal itu, ada danaunya yang adem dan sejuk, mengitari danau pake kapal dapet tempatnya di VIP wah serasa deh … berkabut ... airnya jernih...kapalnya bersih...hembusan anginnya dingiiin menusuk tulang...

Dari danau naik ke atas mau makan telur (jauh-jauh makan telur he he) yang dimasak pake sumber air alami yang mengandung unsur belerang (H2S) . Naik ke atas pake cable car bisa lihat pemandangan danau yang baru dikunjungi dan alam sekitarnya…









Sampai di atas kita rombongan disuguhin telor sama panitia. Warna cangkang telur hitam padahal waktu mentahnya warna telur biasa. Dalemnya telur putih sama kuningnya seperti biasa…Nah makan telur dengan aroma belerang di sekitar....(dipaksa-paksain enak deh makannya...)
Tour Hakone diakhiri dengan acara Onsen, yaitu acara bersosialisasi agar lebih akrab di dalam bak besar air panas dengan tanpa busana…..(wah bayangin tuh). Dulunya pria dan wanita bareng ngejebur di satu bak air panas, tetapi sudah berubah dan akhirnya belakangan dipisah ruangan berendam pria dan wanita. Dari 19 orang peserta tour ada 4 orang yang gak ikut Onsen ini (malu lah yauw… ngumbar aurat). Nah yang 4 orang ini termasuk saya, yang 3 nya dari Turki, India dan Thailand (ce). Sambil nunggu kita ber “Onsen” ria di kolam kecil dengan air panas belerang yang sangat jernih….lumayan kaki jadi agak ringan setelah nyemplung di kolam itu.
Setelah puas berendam diteruskan makan siang dan selesailah acara jalan-jalan ke Hakone. Sebuah perjalanan yang memberikan secuil kenangan di salah satu sudut negara Jepang dengan ikon Gunung Fujinya.

Komentar

  1. aku pernah mampir di jepang, tapi cuma sempat di Tokyo, karena cuma ada waktu 4 jam. Jadi kepingin lagi nih....tapi kapan ya...

    BalasHapus
  2. ya yang penting dah punya cita-cita....realisasinya kita usaha dulu, berdoa dan pasrah....(tawakal) hehehe....

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kata Bijak Perubahan

Perubahan adalah kata lain untuk berkembang atau mau belajar. Dan, kita semua mampu melakukannya jika berkehendak. ( Prof Charles Handy, Filsuf ) Bertahan hidup artinya selalu siap untuk berubah; karena perubahan adalah jalan menuju kedewasaan. Dan kedewasaan adalah sikap untuk selalu mengembangkan kualitas pribadi tanpa henti. Henri Bergson, Filsuf Prancis (1859-1941) Waktu terkadang terlalu lambat bagi mereka yang menunggu, terlalu cepat bagi yang takut, terlalu panjang bagi yang gundah, dan terlalu pendek bagi yang bahagia. Tapi bagi yang selalu mengasihi, waktu adalah keabadian. (Henry Van Dyke, Pujangga AS) Visi bisa jadi adalah kekuatan terbesar kita. Ia selalu membangkitkan daya dan kesinambungan hidup; Ia membuat kita memandang masa depan dan memberi kerangka tentang apa yang belum kita ketahui. ( Li Ka Shing, Miliuner Hong Kong )  Dalam setiap keindahan, selalu ada mata yang memandang. Dalam setiap kebenaran, selalu ada telinga yang mendengar. Dalam setiap kasih...
RENUNGAN UNTUK MELAKUKAN PERUBAHAN... Maju perlahan lebih baik dari pada mundur kebelakang. Hidup ini terus mengalir, tidak berhenti, terus mencari keseimbangan sesuai perkembangan waktu. Perubahan berarti berkembang atau mau belajar, semua mampu melakukannya jika berkehendak. Dalam melakukan perubahan di level corporate tidak perlu melihat untuk siapa tetapi untuk apa, dan setiap upaya perubahan selalu dibuat sesuai target yang dicapai dan tahapan pelaksananaannya. Pada target perubahan yang besar, perubahan dilakukan bertahap jika tidak memungkinkan dilakukan secara sekaligus. Ketidakmungkinan ini disebabkan karena penolakan, resistensi atau sikap eksploratif yang ditunjukkan pelaku-pelaku sebelum mencapai komitmen utuh. Tidak mudah melakukan pentahapan, karena pasti mengalami kesulitan, tetapi kesulitan tersebut bisa diantisipasi dengan membagi-bagi kesulitan sehingga dapat memungkinkan untuk diatasi, seperti diungkapkan Rene Descartes (Matematikawan Prancis) : “Pilahlah tiap kesu...